0
09 Jun
Dikirim pada 09 Juni 2013 di Uncategories

Nama Sekolah        : Madrasah Tsanawiyah Negeri Bantarwaru

Mata Pelajaran      : Pendidikan Agama Islam (Fiqih)

Kelas/Semester       : VII / II

Waktu                     : 4 X 40 Menit (2x pertemuan)

 

STANDAR KOMPETENSI 12 kelas VII semester II

Memahami tatacara shalat Jum’at.

 

KOMPETENSI DASAR:

12.1.  Menjelaskan ketentuan-ketentuan shalat Jum’at.

12.2.  Mempraktikkan shalat Jum’at.

 

INDIKATOR:

1.      Menjelaskan pengertian dan dasar hukum shalat jum’at

2.      Menjelaskan syarat mendirikan shalat jum’at

3.      Menjelaskan perbuatan sunah dalam shalat jum’at

4.      Menyebutkan halangan melaksanakan shalat jum’at

5.      Menjelaskan tatacara shalat jum’at

6.      Mempraktikan shalat jum’at

Tujuan Pembelajaran

Pertemuan 1

1.      Menjelaskan pengertian shalat Jum’at dan dasar hukumnya

2.      Menjelaskan syarat mendirikan shalat Jum’at

3.      Menjelaskan perbuatan sunnah yang terkait dengan shalat Jum’at.

Pertemuan 2

1.      Menyebutkan beberapa halangan melaksanakan shalat Jum’at

2.      Menjelaskan tatacara shalat Jum’at

3.      Mempraktikkan shalat Jum’at di sekolah dan di masjid.

I.                   Pendahuluan

Di bab sebelumnya (sudah dibicarakan beberapa masalah penting dalam beribadah, yaitu thaharah, shalat wajib lima waktu, dan shalat berjama’ah. Pada bab ini (bab 9) yang akan diuraikan masih terkait erat dengan masalah-masalah tersebut. Semua permasalahan yang akan diuraikan terkait dengan masalah shalat. Permasalahan yang dimaksud adalah shalat Jum’at dan shalat jama’-qashar. Namun pada kesempatan kali ini hanya mengupas permasalahan shalat jum’at saja.

II.                     Materi Pokok

A.       Shalat Jum’at

Hari Jum’at merupakan hari istimewa bagi umat Islam. Di antara keistimewaan hari ini adalah disyariatkannya shalat Jum’at yang menggantikan posisi shalat Zhuhur. Waktu melaksanakan shalat Jum’at adalah sama dengan waktu shalat Zhuhur. Kalau pada hari selain Jum’at umat Islam berkumpul untuk melakukan shalat  zhuhur  setelah  terdengar  kumandang  adzan  di  masjid,  maka  pada  hari Jum’at agak sebaliknya, yakni umat Islam sudah mulai banyak yang berkumpul di masjid  sebelum  adzan  berkumandang.  Karena  Nabi  Saw.  menganjurkan  agar jama’ah  shalat  Jum’at  datang  lebih  awal  sebelum  pelaksanaan  shalat  Jum’at dimulai.

Pada hari Jum’at inilah umat Islam secara tidak langsung melakukan pertemuan rutin mingguan di masjid, karena shalat Jum’at harus dilaksanakan di masjid. Umat Islam berkumpul di suatu tempat yang sama, pada hari dan jam yang sama untuk melakukan kegiatan yang sama pula. Kegiatan dimulai dengan kumandang adzan, bahkan ada yang memulainya dengan melakukan shalat sunnat seperti shalat tahiyyatulmasjid. Sehabis adzan, khatib kemudian berkhutbah dan semua jama’ah harus mendengarkannya dengan khidmat, tidak boleh ada yang bersuara (berbicara). Rangkaian Jum’atan ini diakhiri dengan melakukan shalat Jum’at bersama-sama. Namun, tidak sedikit di antara umat Islam yang tidak langsung pulang setelah selesai melaksanakan shalat ini. Mereka memanfaatkan waktu pertemuan itu untuk melakukan berbagai kegiatan, misalnya ada yang bersilaturrahim dengan ngobrol, ada yang melakukan rapat, dan ada juga yang melakukan berbagai transaksi. Hal ini memang dibolehkan selama tidak mengurangi rasa hormat kita kepada masjid.

Demikianlah gambaran pelaksanaan shalat Jum’at yang selama ini terjadi di masjid-masjid di sekitar kita. Untuk memahami lebih lanjut permasalahan shalat jum’at, marilah kita ikuti uraian berikut yang akan mengkaji pengertiannya, hukumnya, syarat dan rukunnya, serta ketentuan-ketentuan lainnya.

B.     Uraian Materi

1. Pengertian shalat Jum’at dan dasar hukumnya.

Shalat Jum’at adalah shalat dua rekaat dengan berjama’ah yang dilaksanakan sesudah khutbah pada waktu Zhuhur di hari Jum’at. Kedudukan shalat Jum’at ini sama seperti shalat Zhuhur, sehingga jika seseorang sudah melaksanakan shalat Jum’at sudah tidak diwajibkan lagi melaksanakan shalat Zhuhur.

Hukum melaksanakan shalat Jum’at adalah fardlu ‘ain (wajib ‘ain), artinya shalat Jum’at harus dilaksanakan oleh setiap Muslim laki-laki yang sudah baligh (dewasa), berakal sehat, bukan budak (hamba sahaya), dan tidak sedang bepergian (bukan musafir)[1]. Dalil wajibnya shalat Jum’at terdapat dalam al-Quran surat al- Jumu’ah (62) ayat 9:

 

يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا إِذَانُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا اِلَى ذِكْرِالله وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَÇÒÈ

Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk melaksanakan shalat pada hari Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah (shalat Jum’at) dan tinggalkanlah jual beli[2]. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Jumu’ah: 9).

 

Dalam hadis Nabi saw disebutkan:

عن طارق بن شهاب رضي الله عنه أَنَّ رَسُوَلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: اَلْجُمُعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فِى جَمَاعَةٍ إِلَّا اَرْبَعَةً: عَبْدٌ مَمْلُوكٌ وَامْرَأَةٌ وَصَبِيٌّ وَمَرِيْضٌ. (رواه ابوداوود والحاكم)

Dari Thariq bin Syihab r.a berkarta; ”sesungguhnya Rasulullah saw. Bersabda: “jum’at itu hak yang harus dikerjakan oleh tiap-rtiap orang Islam dengan berjama’ah bersama-sama, kecuali bagi empat golongan yaitu hamba sahaya, perempuan, anak-anak dan orang sakit”. (HR. Abu Daud dan Hakim).

Oleh karena itu setriap muslim dikenakan kewajiban mengerjakan shalat jum’at dan dilarang untuk meninggalkannya.[3]

 

2. Syarat mendirikan shalat Jum’at

Syarat mendirikan shalat Jum’at ini dikelompokkan menjadi dua macam, ada yang disebut syarat wajib dan ada yang disebut syarat sah. Kedua macam syarat ini akan diuraikan di bawah ini.

 

a.  Syarat wajib mendirikan shalat Jum’at

Orang Muslim diwajibkan untuk melaksanakan shalat Jum’at jika terpenuhi syarat-syarat berikut ini:

1)   Islam, selain orang Islam tidak diwajibkan melaksanakan shalat Jum’at.

2)   Baligh (dewasa), anak-anak tidak wajib shalat Jum’at.

3)   Berakal, orang gila tidak wajib shalat Jum’at.

4)   Laki-laki, perempuan tidak wajib shalat Jum’at.

5)   Sehat, orang sakit tidak wajib shalat Jum’at.

6)   Bermukim (menetap), orang bepergian tidak wajib shalat Jum’at.[4]

 

b.  Syarat sah mendirikan shalat Jum’at

Shalat  Jum’at  dianggap  sah  pelaksanaannya  jika  terpenuhi  syarat-syarat seperti berikut:

1)      Shalat jum’at oleh orang-orang yang tinggal di rumah-rumah yang dibangun sesuai dengan tradisi setempat. Tidak sah shalat jum’at yang dilaksanakan oleh orang-orang yang tinggal di rumah-rumah dan rumah-rumah orang nomaden.[5]

2)       Golongan besar atau jumhur dari sahabat dan tabi’in semufakat, bahwa waktu shalat jum’at itu adalah waktu shalat dzuhur, berdasarkan hadis Rasulullah saw.

عن انس بن مالك رضي الله عنه: أَنَّ النَّبِيَّ صلّى الله عليه وسلّم كَانَ يُصَلِّى الجُمُعَةَ حِيْنَ تَمِيْلُ الشَّمْسُ. (أخرجه البخرى في كتاب الجمعة)

Artinya: Dari anas diceritakan: Adalah Rasulullah Saw. melaksanakan shalat Jum’at  ketika  telah  tergelincir  matahari  (masuk  waktu  Zhuhur)”.  (HR.  al- Bukhari).[6]

 

 

2)   Dilaksanakan dengan berjama’ah, dan tidak sah jika dilaksanakan sendirian.

Mengenai jumlah jama’ah dalam shalat Jum’at, para ulama berbeda pendapat.

Ada yang mengatakan minimal 40 orang dan ada yang mengatakan minimal 2 orang.

 

4)   Dilaksanakan setelah didahului dua khutbah.

Dua khutbah Jum’at ini merupakan suatu kewajiban dalam rangkaian ibadah Jum’at. Jadi, tidak sah shalat Jum’at jika tidak didahului oleh dua khutbah Jum’at. Untuk sempurnanya khutbah Jum’at ini ada syarat dan rukunnya yang harus diperhatikan.

 

Yang termasuk syarat dua khutbah:

a)   Dilaksanakan setelah tergelincir matahari (masuk waktu Zhuhur).

b)   Dilaksanakan dengan berdiri bagi yang mampu. Disunatkan khatib berdiri

di atas mimbar atau tempat yang tinggi.

c)   Khatib  hendaklah  duduk  sebentar  di  antara  dua  khutbah.  Pada  waktu

duduk ini khatib disunnatkan membaca surat al-Ikhlas.

d)   Disampaikan dengan suara yang keras dan jelas sehingga dapat ditangkap oleh jama’ah Jum’at.

e)   Berturut-turut,  baik  rukunnya,  jarak  keduanya,  atau  kedua  khurbah dengan shalatnya.

f)    Khatib harus suci dari hadas dan najis serta harus menutup aurat.

Adapun yang termasuk rukun dua khutbah:

a)   Mengucapkan tahmid (puji-pujian kepada Allah).

b)   Mengucapkan shalawat atas Nabi Muhammad Saw.

c)   Mengucapkan dua kalimat syahadat.

d)   Berwasiat dengan ketakwaan kepada jama’ah Jum’at.

e)   Membaca ayat al-Quran pada salah satu dari dua khutbah.

f)    Berdoa untuk semua umat Islam baik laki-laki maupun perempuan pada khutbah kedua.

3. Sunnah yang terkait dengan shalat Jum’at

Bagi yang melaksanakan shalat Jum’at, disunnatkan melaksanakan hal-hal berikut ini:

a.       Mandi terlebih dahulu sebelum berangkat ke masjid.

عن عبدالله بن عمر رضي الله عنهما: أَنَّ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلّم قَالَ: إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمْ الجُمُعَةَ؛ فَلْيَغْسِلْ. (أخرجه البخارى فى كتاب الجمعة)

b.      Memakai pakaian yang bagus, diutamakan yang berwarna putih.

عن عبدالله بن عمر, أَنَّ عُمَرَ ابْنَ الخَطَّابِ رَأَى حُلَّةً سِيَرَاءَ عِنْدَ بَابِ الْمَسْجِدِ, فَقَالَ: يَارَسُولَ الله, لَوِاشْتَرَيْتَ هَذِهِ فَلَبِسْتَهَا يَوْمَ الْجُمُعَةِ, وَلِلْوَفْدِ إِذَا قَدِمُوْا عَلَيْكَ, فَقَالَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلّم: إنَّمَا يَلْبَسُ هَذِهِ مَنْ لَا خَلَاقَ لَهُ فِى الْأَخِرَةِ, ثُمَّ جَاءَتْ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلّم مِنْهَا حُلَلٌ, فَأَعْطَى عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رضي الله عنه مِنْهَا حُلَّةً, فَقَالَ عُمَرُ: يَارَسُولَ الله كَسَوْتَنِيهَا وَقَدْ قُلْتَ فِي حُلَّةِ عُطَارِدٍ مَاقُلْتَ؟ قَالَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلّم: إِنِّي لَمْ أَكْسُكَهَا لِتَلْبَسَهَا, فَكَسَهَا عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رضي الله عنه أَخًا لَهُ بِمَكَّةَ مُشْرِكًا. (أخرجه البخارى)

c.       Membersihkan bau badan

d.      Memotong kuku yang panjang kecuali orang yang sedang ihrom (bagi muhrim hukumnya haram)

e.       Mencuci jari bekas kuku yang dipotong.

f.       Memakai wewangian kecuali dalam keadaan ihrom.

g.      Memakai sorban.

h.      Dating lebih awal kecuali imam.

i.        Menuju masjid dengan berjalan kaki, menempuh perjalanan yang agak jauh saat berangkat, dan mengambil jalan yang lebih pendek saat pulang.

j.        Dalam perjalanan memperbanyak dzikir, shalawat atau membaca al-Qur’an.

k.      Memperbanyak doa dan shalawat atas Nabi Saw. pada hari Jum’at maupun malamnya.[7]

l.        Melaksanakan shalat tahiyyatulmasjid. Berdasarkan pada hais Rasul:

عن ابي قتادة رضي الله عنه قال: قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: إِذَا دَخَلَ اَحَدُكُمْ الْمَسْجِدَ فَلَا يَجْلِسْ حَتَّى يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ. (متفق عليه)

            Dari Abu Qatadah ra. Telah mengatakan bahwa Rasulullah saw. Pernah bersabda,:  “apabila seseorang di antara kamu memasuki masjid, jangan langsung duduk sebelum mengerjakan shalat dua raka’at. (Muttafaq ‘Alaih)[8]

 

4. Halangan melaksanakan shalat Jum’at

 

Di atas sudah disebutkan bahwa hukum melaksanakan shalat Jum’at adalah wajib  ‘ain  dan  tidak  boleh  ditinggalkan  bagi  yang  memenuhi  syarat.  Namun demikian,   ada   beberapa   hal   yang   membolehkan   seseorang   untuk   tidak melaksanakan shalat Jum’at, dan bagi orang tersebut diwajibkan melaksanakan shalat Zhuhur.

Adapun yang dapat menghalangi seseorang untuk melaksanakan shalat Jum’at adalah:

a.   Karena sakit, hamba sahaya, perempuan, dan anak-anak. Hal ini ditegaskan dalam hadits Nabi seperti dijelaskan di depan.

b.   Karena hujan lebat.

 

5. Tata cara shalat Jum’at

Di atas sudah diuraikan ketentuan-ketentuan mengenai shalat Jum’at. Dengan berpedoman kepada ketentuan-ketentuan tersebut, dapatlah kita mempraktikkan shalat Jum’at dengan urutan seperti berikut:

a.       Setelah dipenuhi persyaratan shalat Jum’at sebagaimana shalat pada umumnya mulailah bersiap untuk melakukan shalat Jum’at yang diawali berkumpul di masjid dan melaksanakan shalat sunnat tahiyyatulmasjid dua rekaat

b.      Rangkaian  shalat  Jum’at  dimulai  dengan  dikumandakannya  adzan  sebagai tanda bahwa waktu shalat Jum’at sudah masuk. Dalam praktiknya, ada yang mengumandangkan adzan sekali dan ada yang dua kali

c.       Setelah dipenuhi persyaratan shalat Jum’at sebagaimana shalat pada umumnya mulailah bersiap untuk melakukan shalat Jum’at yang diawali berkumpul di masjid dan melaksanakan shalat sunnat tahiyyatulmasjid dua rekaat

d.      Bagi yang adzannya sekali, rangkaian Jum’atan dimulai dengan khatib naik mimbar lalumengucapkan salam dan disusul dikumandangkannya adzan

e.       Selesai adzan, khatib memberikan khutbahnya yang pertama

f.       Selesai khutbah pertama, khatib duduk sebentar (duduk di antara dua khutbah) dan kemudian berdiri kembali untuk melanjutkan khutbah yang kedua

g.      Ketika  khatib  sedang  berkhutbah,  semua  jama’ah  duduk  teratur  dan  rapi dengan memenuhi shaf yang ada dimulai dari shaf terdepan terus ke belakang, mendengarkan khutbah dengan khidmat, dan tidak boleh bericara, berbisik- bisik, maupun bergurau, karena hal ini akan merusah Jum’atan. Nabi bersabda: Artinya: “Apabila engkau berkata kepada temanmu pada hari Jum’at (melakukan shalat Jum’at)  “diam”  dan khatib sedang berkhutbah,  maka rusaklah ibadah Jum’atmu.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

h.      Selesai khutbah kedua, muadzdzin mengumandangkan iqamah sebagai ajakan untuk segera melaksanakan shalat Jum’at

i.        Setelah  itu  khatib  segera menempati  tempat  imam  untuk  memimpin  shalat Jum’at, dimulai dengan mengingatkan kepada jama’ah untuk membentuk shaf yang rapi dan lurus. Semua jama’ah termasuk imam lalu melaksanakan shalat Jum’at dengan khusu’ hingga selesai

j.        Sehabis shalat, seyogyanya jangan langsung bubar. Gunakan waktu selanjutnya

untuk memperbanyak dzikir dan berdoa kepada Allah

k.      Setelah itu masih disunnatkan melakukan shalat sunnat ba’diah (setelah shalat

Jum’at) dua rekaat

l.        Bagi yang memiliki waktu luang bisa bersilaturrahim antar sesama Muslim di masjid, dan bagi yang memiliki kegiatan di luar bersegeralah untuk melakukan kegiatannya masing-masing

6.      Praktik Shalat Jum’at

Di sekolah diadakan kegiatan salat Jum’at setiap hari Jum’at pada selesai KBM. Kegiatan ini digilir, dimulai dari siswa kelas IX, kemudian Jum’at berikutnya kelas VIII dan Jum’at berikutnya kelas VII. Kegiatan salat Jum’at di sekolah wajib diikuti oleh seluruh siswa yang beragama Islam, baik putra maupun putri. Kegiatan ini dibina oleh pengampu Pendidikan agama Islam, kesiswaan dan beberapa bapak guru.

7.      Catatan (Fungsi shalat Jum’at dalam kehidupan)

Setiap   kewajiban   pasti   akan   membawa   hikmah   atau   manfaat   jika dilaksanakan, dan akan membawa madlarat bahaya jika ditinggalkan. Begitu juga halnya shalat Jum’at. Shalat Jum’at yang diwajibkan kepada setiap Muslim yang

memenuhi   syarat   ternyata   memiliki   fungsi   yang   sangat   penting   dalam kehidupannya. Di antara fungsi-fungsi tersebut adalah:

a)      Shalat  Jum’at  merupakan  sarana  mempertemukan  umat  Islam  seminggu sekali.   Dengan   pertemuan   seperti   itu,   banyak   hal   yang   dapat   diambil hikmahnya, seperti dapat saling bersilaturrahim antar sesama Muslim, dapat saling mengetahui kondisi masing-masing umat Islam, dan juga setelah selesai melaksanakan shalat Jum’at, umat Islam dapat melakukan berbagai transaksi, termasuk transaksi dagang, dengan sesamanya, sehingga setelah menyelesaikan urusan agama (akhirat), mereka dapat melakukan hal-hal yang terkait dengan urusan duniawi

b)      Shalat Jum’at merupakan ujud persatuan dan kesatuan umat Islam. Tidak sah shalat Jum’at jika tidak dilakukan dengan berjama’ah. Ini menunjukkan, betapa pandainya   seorang   Muslim,   atau   mungkin   kaya,   berpangkat,   dan   lain sebagainya,  jika   melakukan   shalat   Jum’at   dengan   sendirian,   tidak   sah shalatnya.  Jadi,  shalat  Jum’at  harus  dilaksanakan  dengan  berjama’ah  dan harus satu kesatuan niat dan langkah

c)      Shalat Jum’at juga merupakan ujud persamaan antar manusia, khususnya

umat Islam. Untuk melaksanakan shalat Jum’at ini tidak dibeda-bedakan posisinya sesuai dengan derajat, pangkat, kekayaan, atau yang lain. Siapapun berhak menjadi khatib atau imam asal memenuhi syarat, begitu juga untuk menempati shaf (barisan) pertama tidak didasarkan pada hal-hal tersebut, tetapi didasarkan pada siapa yang dahulu datang ke masjid

d)     Shalat Jum’at juga merupakan sarana yang cukup baik untuk saling nasehat- menasehati antara sesama umat Islam. Melalui mimbar Jum’at, khatib dapat memberikan nasehat-nasehat kebaikan, terutama nasehat takwa, kepada para jama’ah.  Dengan  saling  mengingatkan  di antara  umat  Islam  ini  diharapkan semua jama’ah Jum’at akan dapat berpegangan dengan ketentuan-ketentuan agama dengan baik

e)      Shalat Jum’at juga merupakan ukuran kualitas keislaman seseorang. Kualitas seorang Muslim dapat dilihat dari konsistensinya dalam melaksanakan shalat Jum’at ini. Jika ia sampai melalaikan shalat Jum’at, misalnya tiga kali saja dengan berturut-turut, maka akan terlihat bahwa kulaitas keislamannya belum bisa diandalkan (masih terhitung munafiq)

f)       Shalat Jum’at juga merupakan syi’ar Islam yang dapat dijadikan sarana untuk meningkatkan kualitas umat Islam dan mempengaruhi umat lain agar tertarik kepada Islam. Shalat Jum’at diibaratkan sebagai hariraya mingguan bagi umat Islam. Nabi juga mengatakan shalat Jum’at merupakan ibadah haji bagi umat Islam yang miskin yang tidak mampu melaksanakan haji ke tanah suci Makkah

 

III.             Kesimpulan

Sebagai seorang Muslim yang tidak sedang bepergian, kalian wajib melaksanakan shalat Jum’at di masjid-masjid yang terdekat dengan kalian. Jika bisa, kalian harus datang sebelum adzan Jum’at dikumandangkan. Di samping shalat Jum’at, kalian juga harus mendengarkan khotbah dengan khusyu’, sebab hal itu merupakan kesempurnaan ibadah Jum’at yang kalian lakukan. Jangan sampai kalian tidak melaksanakan shalat Jum’at, sebab shalat Jum’at adalah shalat wajib yang harus dilakukan oleh setiap Muslim, kecuali bagi kaum wanita dan yang sedang bepergian.

 

IV.             Langkah-langkah kegiatan pembelajaran

Pertemuan pertama

I.             Pendahuluan

1.      Mengingatkan kembali pelajaran yang lalu tentang akhlak terpuji dan kaitannya dengan kewajiban melaksanakan ibadah salat.

II.          Kegiatan Inti

1.      Eksplorasi

-          Menggali pemahaman siswa tentang salat Jum’at.

-          Mengajak siswa memerhatikan pelajaran tentang praktik salat Jum’at melalui media presentasi power point.

2.      Elaborasi

-          Siswa membaca dan menelaah berbagai literatur buku Fikih Islam untuk menemukan konsep yang benar tentang salat Jum’at dengan berbagai ketentuannya.

3.      Konfirmasi

-          Guru dan siswa bersama-sama menyimpulkan konsep yang benar tentang pelaksanaan salat Jum’at.

III.       Kegiatan Akhir

1.      Guru mengidentifikasi masalah yang dialami siswa untuk memahami materi berdasarkan tanya jawab.

2.      Siswa melakukan refleksi tentang kesulitan belajar yang dihadapi untuk memahami materi.

Pertemuan ke-2

I.         Pendahuluan

1.      Mengingatkan kembali pelajaran yang lalu tentang konsep salat Jum’at yang terdapat dalam literatur fikih Islam.

II.      Kegiatan Inti

1.      Eksplorasi

-       Menggali pemahaman siswa tentang perilaku praktik salat Jum’at

-       Mengamati video pelaksanaan salat Jum’at melalui media presentasi power point.

2.    Elaborasi

-       Membagi kelas menjadi 5 kelompok

-       Siswa melakukan simulasi pelaksanaan Salat Jum’at. Siswa diberi tugas masing-masing untuk menjadi Imam, makmum, muazin, dan khatib Jum’at.

3.    Konfirmasi

-       Guru dan siswa bersama-sama menyimpulkan hasil simulasi pelaksanaan salat Jum’at.

III.   Kegiatan Akhir

1.      Guru mengidentifikasi masalah yang dialami siswa untuk memahami materi berdasarkan tanya jawab.

2.      Siswa meminta kepada seluruh siswa agar senantiasa melaksankan ibadah salat Jum’at bagi yang berkewajiban melaksanakannya.

V.  Sumber Belajar

1.      Buku Fiqih Islam tentang sholat Jum’at

2.      File Media Presentasi Power Point

3.      Browsing internet tentang sholat Jum’at

 



[1] Amir Syarifuddin, Garis-garis Besar Fiqh, (Jakarta: Kencana, 2010). Hlm. 32.

[2] Maksudnya: apabila imam Telah naik mimbar dan muazzin Telah azan di hari Jum'at, Maka kaum muslimin wajib bersegera memenuhi panggilan muazzin itu dan meninggalakan semua pekerjaannya.

[3] Saifulloh Al-Aziz S., Fiqih Islam Lengkap, (Surabaya: Terbit Terang, 2005), Hlm. 184.

[4] Muhammad Sokhi Asyhadi, Fikih Ibadah Versi Madzhab Syafi’i, (Purwodadi: Pondok Pesantren Fadllul Wahid Grobogan, 2010), Hlm. 160.

[5] Saleh Al-Fauzan, Fiqih Sehari-hari, (Jakarta: Gema Insani, 2006). Hlm. 194.

[6] Sayyid Sabiq, Fikih Sunnah 2, (Bandung: Al-Ma’arif, 1976), Hlm. 315.

[7] Muhammad Sokhi Asyhadi, Fikih Ibadah Versi Madzhab Syafi’i, (Purwodadi: Pondok Pesantren Fadllul Wahid Grobogan, 2010), Hlm. 163-164

[8] Hamim Thohari Ibnu M. Dailimi, Terjemah Bulughul Maram, (Yogyakarta: Al-Birr Press, 2009), Hlm. 84.

 



Dikirim pada 09 Juni 2013 di Uncategories
comments powered by Disqus
Profile

pengen bisa semua cabang olahraga, More About me

Page
Categories
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 82.824 kali


connect with ABATASA